Toko Papatembak

About Us

Nama saya Azhar, seorang teknisi di salah satu oil and gas service company di Balikpapan (update November 2016: sekarang udah kena PHK. hahaha). Dari lahir sampe lulus kuliah tinggal di Bandung. Urang sunda asli, Mang!

Penampakan penulis dalam mode super saiyan

Saya baru mulai memanah bulan November 2015, pada saat blog ini mulai dibuat saya baru memanah selama 7 bulanan. Ya, saya seorang nubitol. Dijerumuskan oleh seorang kawan (sebut saja namanya Monas) yang pada suatu hari datang ke rumah menyombongkan hobi barunya. 

"Lagi rajin olah raga nih, pengen ngurusin badan" dia bilang. 

"Olah raga apaan?" saya penasaran. 

"Panahan dong, lagi in di Balikpapan, keren kan?" dia membalas dengan nada yang nyebelin. 

Tapi seketika saya merasa girang, sudah sejak kecil saya suka olah raga yang berhubungan dengan tembak2an, apalagi memanah. Serasa gagah aja gitu kalo nonton film2 yang ada panahannya, robin hood, avenger, brave, hunger games, atau film2 abad pertengahan. Tapi mau main gak tau caranya yang bener kayak gimana. Otomatis si Monas langsung saya berondong pertanyaan mulai dari masalah klub, lokasi, cara gabung, sampe tentu saja biaya dan harga peralatan yang ternyata lumayan.

Yang mana coba yang namanya Monas?

Singkat cerita saya sudah bergabung di salah satu klub panahan yang berada di bawah naungan INASP (Indonesia Archery School Program). INASP lebih berfokus pada penggunaan busur recurve kayu yang umumnya disebut standard bow pada ronde indoor (jarak 18 meter).

Kurikulum awal untuk pemanah pemula tentu adalah teknik/form. Kebanyakan orang nurut2 aja sama ajaran pelatih/coach tanpa banyak tanya. Namun karena rasa penasaran saya cukup tinggi, dari kali pertama saya pegang alat langsung muncul pentanyaan2 tentang spek dan setup peralatan. Seperti apa arti tulisan yang ada di limbs, apa arti penomoran arrow, berapa jarak dan ukuran target yang dipertandingkan, dll. Tapi jawaban yang saya dapat dari coach dan teman2 di klub kurang memuaskan rasa penasaran saya. Mungkin karena dianggap terlalu detail untuk pemula, males nerangin, jaga rahasia, atau mungkin malah sama2 gak ngerti.

Jalan terakhir, tanya mbah Google. Begitu latihan beres saya langsung browsing, beberapa saat kemudian saya melongo karena 2 hal. Pertama karena ternyata panahan itu aspeknya luas sekali, dari segi fisika, biomechanic, sejarah, dst. Belum lagi jenis busur dan gaya memanah yang juga bermacam2. Wah, bisa jadi hobi untuk seumur hidup nih. Itupun belum tentu bisa menguasai semuanya.

Hal yang kedua sesungguhnya membuat saya sedih. Dari sekian banyak literatur tentang panahan, sedikiiiiit sekali diantaranya yang berbahasa Indonesia. Untungnya saya punya istri lulusan bahasa Inggris, sedikit banyak belajar lah dari dia (sebut saja namanya Popon).


Ceu Popon

Saya suka menggali informasi, sayangnya saya suka cepet lupa. Akhirnya saya coba bikin catatan, sebagai rangkuman dari informasi yang berhasil saya dapat, berbahasa Indonesia. Saya upload di status Facebook, sekalian share ilmu sama temen2 yang mungkin agak kesulitan baca artikel berbahasa Inggris. Tapi muncul masalah baru, kalo nanti saya lupa dan mau cari contekan, masa iya harus buka Facebook dan scroll ke bawah sampe bego? Wah, repot!

Untungnya ada kawan lain yang tiba2 komen (sebut saja namanya Brewok). Dia bilang kenapa gak bikin blog aja? Oiayah, masalah teratasi. Jadi deh blog ini. Mudah2an bisa update terus kalo gak males.

Aktor figuran gak penting


Kalo mau usul judul pembahasan yang belum ada disini bisa kirim pesan lewat Contact Us. Mudah2an kebaca. Sabar yah, bikin artikel ternyata gak gampang. Salah2 nanti dibego2in pembaca.



Terakhir, kenapa namanya papatembak?



Si Coy, penemu papatembak



Teu rame pan? Ngadon dibaca atuh da.
Azhar A. Suryadiningrat
papatembak.blogspot.co.id
Powered by Blogger.